TEMU PENDIDIK REGIONAL ( TPR ) JATIM 2019
TEMU PENDIDIK REGIONAL JATIM 2019
Semua murid, semua guru, slogan itu sudah lama kudengar dan kukenal maknany, pun aku sudah tahu dan paham. Namun, aku bertanya-tanya dalam hati kecilku, siapa yang mencetuskan slogan itu, sederhana tapi memiliki makna yang dalam. Jika slogan tersebut ditulis semua tanpa koma akan memiliki makna yang berbeda dengan adanya penambahan tanda koma. Aku lebih senang slogan tersebut tanpa koma. Mengapa demikian? Menurutku, jika tanpa koma maknanya akan lebih wow. Googling sana sini, secara, mau nanya sana sini terlalu lama dan tentu saja, jawaban tak memuaskan yang aku terima. Ternyata, gerakan semua guru semua murid digagas oleh Najeela Shihab, kakak kandung Najwa shihab dan juga putri seorang Kyai kondang dan ternama dengan kecerdasan ddan segudang prestasi yang tak diragukan lagi, Quraish Shihab.
Najeela Shihab mencetuskan slogan ini sejak 2016, sekitar tiga tahun lalu. Slogan ini kemudian dijadikan sebuah Gerakan Semua Murid Semua Guru (SMSG). Gerakan SMSG membentuk jejaring yang menghubungkan sejumlah komunitas pemerhati pendidikan untuk berkolaborasi. Gerakan yang diinisiasi oleh bunda Elaa, yang merupakan sapaan akrab Najeela ini juga disebut sebagai jaringan publik berdaya yang belajar, bergerak dan bermakna secara bersama. Ada sekitar 446 komunitas dan organisasi yang tergabung dalam jaringan SMSG di tahun 2018 dan pastinya di tahun 2019 sudah bertambah.
Najeela Shihab merupakan founder Sekolah Cikal ( Cinta Keluarga). Tahun 1999, bersama sang suami dan baru saja melahirkan anak pertama, mereka mendirikan Yayasan Pendidikan bernama Cikal. Saat itu, Elaa, masih berusia 22 tahun, usia yang begitu belia, namun memiliki pemikiran yang luar biasa tentang masa depan pendidikan di Indonesia. Siapa yang bisa menyangka, hingga saat ini Cikal memiliki sepuluh cabang dengan lebih dari 2.500 siswa yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.
Salah satu agenda besar Yayasan Cikal adalah menyelelenggarakan Temu Pendidik. Temu pendidik ini diadakan mulai dari jenjang nasional (TPN) dan juga regional (TPR). Temu Pendidik Nasional (TPN) 2019 diadakan di Jakarta pada 25-27 Oktober 2019. Tahun 2019, merupakan tahun keenam penyelenggaraan TPN yang dihadiri oleh 1000 guru dari 120 daerah di Indonesia untuk berbagi praktik baik pengajaran dan pendidikan.
Sedangkan TPR (Temu Pendidik Regional) Jawa Timur diadakan di Sekolah Cikal Surabaya yang berada di jalan Lontar, Sambikerep. Pada TPR kali ini dihadiri oleh 430 peserta dari 15 kabupaten dan kota yang ada di Jawa timur, dan aku adalah salah satu peserta dari TPR tahun ini. Atmosfer TPR benar-benar terasa, mulai dari sambutan saat kita datang dan registrasi. Bayangkan, aku yang hanya seorang guru ndeso berbaur dengan bapak ibu guru hebat dari Jawa Timur. Bagaikan mimpi saja, aku berhasil menjejakkan kaki di Sekolah Cikal Surabaya.
Pertama kali menginjakkan kaki di Sekolah Cikal Surabaya, kesan yang kutangkap adalah Sekolah Ekslusif dengan berbagai fasilitas yang ada. Registrasi dibuka pukul 07.00 tepat, aku tiba pukul 06.30, jadi aku masih punya waktu 30 menit untuk menunggu registrasi dibuka. Kesempatan itu, tak kusia-siakan dengan berkeliling Sekolah Cikal. Dari pintu gerbang, kita sudah disambut oleh Pak Satpam yang luar biasa ramahnya, menanyakan, ada keperluan apa. Setibanya di parkiran, aku berdiri sambil mempelajari situasi. Di sebelah kiri tempat parkir mobil ada sebuah ruangan yang disebut Parent Lounge. Aku tak tau, apa fungsi ruangan itu karena aku tak bertanya lebih lanjut apa fungsi ruangan tersebut yang menyebabkan aku menyesal saat menulis, mengapa tak aku tanyakan. Tempat parkir antara mobil dan motor dipisahkan oleh sebuah taman kecil. Di tengah-tengah taman kecil itu, ada sebuah batu buatan yang bertuliskan Cinta Keluarga, yang belakangan baru aku ketahui merupakan kepanjangan dari CIKAL. Kuper bin ndeso banget kan aku, hehehe. Biarin ajalah, kalau aku kuper dan ndeso yang terpenting dari kuper dan ndeso bisa lebih memacu diri ini untuk belajar dan semakin sadar diri bahwa diri ini masih belum bisa apa-apa, masih harus dan terus belajar.
Balik ke Sekolah Cikal Surabaya yaa. Dari tempat parkir mobil, ada sebuah selasar yang menghubungkan antara tempat parkir mobil dan tempat registrasi TPR. Selasar ini merupakan sebuah jalan yang kanan kirinya ditutupi oleh semacam fiber atau apalah, aku tak tau namanya. Fiber ini tidak secara langsung disambung jadi satu, ada sedikit celah yang memisahkan antara satu dan yang lainnya, lebar sekatnya kira-kira setengah meter. Pukul 07.00 tepat, registrasi dibuka, saat itu sudah banyak peserta yang datang. Kami segera diminta untuk berbaris untuk mendapatkan nomor registrasi dan aku adalah orang pertama mendapat giliran. Segera setelah registrasi, aku menoleh ke sebelah kananku dan berjalan kesana. Ada sebuah lapangan futsal dengan rumput sintetis dan baliho super besar yang bertuliskan “Selamat Datang Para Peserta TPR 2019 Memantik Literasi”. Dasar tukang selfie, sambil menunggu teman-teman yang lain datang, cekrek-cekrek dulu dong. Di depan lapangan futsal, ada semacam ruangan terbuka yang bsa digunakan untuk unjuk gelar. Pada saat TPR, ruang terbuka ini digunakan untuk tempat makan para peserta dan pada waktu makan siang, ada live music oleh siswa-siswi Sekolah Cikal.
Ada 4 lantai di Sekolah Cikal Surabaya, pembukaan cara dilaksanakan di hall auditorium yang berada di lantai 4. Untuk mencapai auditorium ini, ada dua cara yang bisa kita pakai, cara manual dan cara otomatis. Cara manual dengan naik tangga dan cara otomatis dengan naik lift. Sempat terbersit pemikiraan di benakku, “Berapa yaa kira-kira pembayaran setiap bulannya, sampai-sampai ada lift di sekolah?”
Masuk di auditorium, aku disambut oleh ratusan kursi yang masih kosong. Segera saja kulangkahkan kakiku menuju deretan paling depan di sebelah kanan. Disanaa aku sempat berkenalan dengan pesserta TPR paling sepuh dari Surabaya dengan usia 74 tahun. Tak lama kemudian, ponselku bergetar, notifikasi sebuah pesan ada yang mencariku dan ternyata salah satu sahabat dari kota pudak. Kuberitahukan padanya, aku duduk paling depan sebelah kanan dan segera saja ia menghampiriku.
Acara pembukaan dibuka oleh MC yang merupakan siswa dan siswi Sekolah Cikal kelas VII dan IX. Dengan percaya diri dan penguasaan pronunciation yang sempurna mereka sukses menjadi pembawa acara. Pak Ernell atau siapa namanya, aku agak lupa menadi key note speaker di TPR kali ini. Ada banyak hal yang disampaikan oleh beliau terutama tantangan-tantangan di era 4.0. Padahal, di luar negeri sudah menghadapi era 5.0 bukan lagi 4.0. sebegitu massif perubahan yang dibawa oleh era 4.0. Akan ada pekerjaan-pekerjaan yang lenyap secara perlahan namun pasti digantikan oleh pekerjaan-pekerjaan baru yang lebih berpihak pada perkembangan IT. Namun, satu hal yang dapat kutangkap dari keseluruhan pembicaraan beliau adalah teknologi bisa saja berkembang pesat namun tak ada yang bisa menggantikan peran seorang guru ataupun manusia, secara tepatnya mengenai sentuhan kasih dan sayang.
Sebelum key note speaker menyampaikan tentang 4.0, ibu Ratih selaku kepala sekolah Cikal, menyampaikan apresiasi yang luar biasa dikarenakan ada peningkatan peserta daari tahun ke tahun. Terima kasih juga beliau sampaikan kepada semua pihak yang telah ikut membantu mensukseskan acara ini, termasuk kepada wali murid yang juga ikut membantu dan mendukung terselenggaranyaa TPR 2019 di sekolah Cikal.
Ada 4 kelas yang diselenggarakan pada TPR kali ini, kelas kemerdekaan, kelas kompetensi, kelas kolaborasi dan kelas karier. Kelas kemerdekaan, guru berbagi sekaligus mendapatkan inspirasi dari para narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Di kelas kompetensi, narasumber menyampaikan kompetensi mereka maasing-masing melalui pengalaman belajar yang bermakna. Pada kelas kolaborasi, guru menjalin kolaborasi dengan para guru yang lain. Dan kelas terakhir adalah kelas karier, di kelas ini narasumber menyampaikan inovasi mereka dalam bidang pembelajaran yang bisa menginspirasi para peserta TPR. Pada setiap pergantian kelas, kami harus berpindah ruangan. Jadi, kami berpindah-pindah dari lantai 1 hingga ke lantai 3.
Pada kelas kemerdekaan, aku mengambil K-AN 02, yang berisi tentang diskusi suka-suka. Yang dimaksud dengan diskusi suka-suka disini adalah diskusi kelompok, yang anggota kelompoknya, dipilih oleh anak-anak sendiri namun, materi tetap diberikan oleh guru yang dikemas dalam bentuk bermaain sambil belajar, sehingga anak tidak merasa terbebani. Ada 3 narasumber yang berbagi tentang praktik baik di sekolah mereka masing-masing berdasarkan diskusi suka-suka.
Sedangkan pada kelas karier, literasi digital dalam dunia digital menjadi pilihanku. Thoriq, namanya, adalah seorang anak muda dengan seabreg prestasi di dunia digital. Bahkan dia pernah menjadi seorang freelance blogger dengan penghasilan 100 US$ sekali dia menulis. Menurut Thoriq, dan juga berdasarkan survey di lapangan akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang secara langsung akan berdampak dan berpengaruh dalam kehidupan. Pekerjaan baru sebagai akibat era digitalisasi 4.0 dan 5.0 adalah digital data analyst, inbound/digital marketing specialist, UX/UI designer, content writer, SEO Specialist. Ada beberapa alasan yang mendasri munculnya pekerjaan-pekerjaan baru terkait dunia digital ini yaitu:
1. Fleksibilitas, bisa bekerja dimana saja. Pakaian bebas. Beberapa perusahaan biasanya juga memberikan kebebasan waktu lebih.2. Hemat uang dan waktu, misalnya makan siang, parkir dan juga hangout
3. Cenderung lebih sehat kaarena tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain
4. Perbedaan nilai tukar antara USD dan IDR yang cukup tinggi untuk saat ini
5. Company retreat, minmal luar negeri setahun sekali. Dikarenakan perusahaan-perusahaan besar kantor pusatnya ada di luar negeri
Nah, jika masih bingung untuk memulai bekerja secara digital dari mana, berikut ini adalah situs-situs yang bisa dikunjungi untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di luar negeri dan bekerja secara remote:
a. WeWorkRemotely( https://weworkremotely.com )
b. RemoteOk ( https://remoteok.io)
c. Upwork ( https://www.upwork.com )
Kelas kolaborasi dengan Coding For Mom, mengajakku belajaar lebih jauh tentang coding terutama untuk para ibu-ibu. Sedikit pengenalan tentang coding, yang awalnya hanya berupa angka, huruf dan simbol-simbol bisa berubah menjadi gambar dan suara. Di kelas ini, aku sedikit terlambat jadi mengharuskaan diri ini untuk belajar lagi tentang coding secara mandiri.
Sebagai penutup kelas adalah kelas kompetensi,literasi digital dengan desmos dan graphic design. Sempat terbersit jika aku salah masuk kelas, dikarenakan hanya ada 10 peserta yang masuk di kelas ini. Pada awal pemamparan, 2 orang narasumber yang masih muda dan enrgik menjelaskan tentang 6 literasi dasar. Yang sebelumya, aku hanya meengenal literasi baca tulis saja, ternyata ada 6 literasi lain yang bisa kita terapkan untuk keluarga dan anak didik kita di sekolah. 6 literasi tersebut adalah:
2. Literasi numerasi
3. Literasi sains
4. Literasi digital
5. Literasi financial
6. Literasi kewargaan
Setelah dijelaskan masing mengenai keenam literasi, kami diminta membentuk kelompok dan menuliskan praktik baik yang telah kami laksanakan di sekolah kami. Masing-masing kelopok beranggotakan 3-4 orang. Hasil diskusi ditempel pada tempat yang kosong agar bisa diberikan kritik dan saran oleh kelompok lain dengan memberikan footnote dan tanda bintang.
Pada kelas kompetensi ini, kami dikenalkan sebuah kalkulator canggih yang bisa digunakan untuk menggambar sebuah grafik dengan cara memasukkan variable-variabel x dan y. Nah, setelah alat ini dipinjamkan, disinilah aku merasa bahwa aku salah masuk kelas, dan itupun ternyata juga terjadi dengan teman-temanku yang lain. Alas an mereka sama sepertiku memilih kelas ini, pengen tahu saja. Namun, setelah tahu bahwa alat itu digunakan untuk minimal kelas VIII sempat down, tapi kemudian kami saling menyemangati bahwa ini adalah pengalaman baru, yang tidak semua peserta mendapatkannya.
Tepat pukul 18.00 seluruh rangkaian acara TPR 2019 ditutup secara resmi oleh penampilan bapak-ibu pengajar, staff dan wali murid Sekolah Cikal. Wali murid diwakili oleh Adit AFI yang merupakan jebolan salah satu ajang pencari bakat. Sebelum acara ditutup, ada video conference dengan ketua KGB (Komunitas Guru Belajar) Indonesia dan juga Bunda Elaa. Dengan semangat membara beliau memberikan motivawsi, bahwa perubahan dimulai dari diri kita kemudian ke kelas-kelas kita di sekolah.
#semua murid semua guru
#merdeka belajar
#guru penggerak

Luar biasa...mantab penuh dengan inspirasi
BalasHapus