SAGU SAKA


Nulis itu Kulak’an

Menggelitik bukan? Sebenarnya aku sudah lama mendengar pepatah itu, namun entah mengapa baru pada hari Minggu, 15 Desember 2019 aku merasa terpanggil. Hal tersebut diucapkan oleh Cak Sariban, yang merupakan penulis kenamaan dari ranah pantai utara, Tuban. Sebenarnya, diri ini merasa hina memanggil beliau dengan sebutan Cak, karena dari segi usia, beliau se-usia bapakku, pastinya enggak sopan banget dong. Tapi, tak apalah demi mencoba mengakrabkan diri, walaupun harus sadar diri juga, apalah diri ini yang hanya merupakan butiran debu di tengah samudera luas. Hehehe...
Minggu, 15 Desember 2019 aku keluar dari sarangku untuk menyesap ilmu lagi. Hari minggu yang harusnya, kupakai untuk sekedar leyeh-leyeh mencoba melepas penat setelah satu minggu bermain dan bercanda dengan muridku, namun untuk hari Minggu aku meminta izin dari suami dan anak-anakku agar aku terbang keluar dari sarangku. Dan, akhirnya mereka mengijinkanku. Terima kasih untuk suami dan anak-anakku yang telah memberikan lampu hijau untuk ke sekian kalinya.
Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 mengingat jarak dan waktu tempuh yang tak bisa diprediksi dikarenakan aku menumpang kendaraan umum. Jarak rumahku dengan PBG (Pusat Belajar Guru) tempatku menimba ilmu hari itu adalah sekitar 40 km. Sebenarnya sih dekat, tapi kan namanya naik kendaraan umum kan tidak bisa diprediksi, bisa jadi ada macet, ban meletus atau kejadian lain di luar kendali kita sebagai manusia. Tepat pukul 07.50, kakiku menjejak di PBG. Ternyata, sudah ramai, padahal dari luar terlihat sepi, hanya diwakili oleh motor-motor yang berjajar rapi dan beberapa mobil yang terparkir. Aku pun segera registrasi dan melihat sudah hampir penuh daftar hadir yang terisi.
Setelah registrasi dan mengisi daftar hadir, pintu kubuka dan taraa...ada banyak teman-teman penulis hebat yang ada disana. Ada bunda Nur Sholihah dari Merakurak, pemilik Rumah Literasi Silowo, bunda Eva Septiana Rahayu dari Grabagan, kepala sekolah luar biasa yang senantiasa menyemangatiku untuk tak surut langkah dan tak lupa pula bunda Endang Saptarina dengan semangat membara untuk selalu menyalakan api literasi di sekitarnya. Selain beliau bertiga ada pula bunda Sriyatni, duo bunda Lilik, Lilik Istiana dari TK Insan Kamil dan Lilik Dyah Wulandari, dari SMP 4, bunda Oktian yang cantik menawan dengan lesung pipitnya juga ada disana serta dulur-dulur lain dari IGPT (Ikatan Guru Penulis Tuban) yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.
Ada 2 sesi materi yang diberikan di Minggu pagi yang syahdu saat itu, materi pertama dari Cak Sariban dan materi kedua dari Pak Mujihadi. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Cak Sariban, terkait dunia kepenulisan. Judul materi yang diambil dan benar-benar bisa membuat penulis jadi tersenyum lebar adalah “Penerbitan Buku, Kabar Bahagia Sahabat Penulis”. Ada 14 hal yang dibahas pada materi kali ini. Banyak banget ya, tapi tak apa, yang paling penting adalah hari itu aku dapat ilmu baru dan teman baru yang sebelumnya hanya berkabar lewat dunia maya saja. Oh iya, berikut ini materi-materi dari beliau, Cak  Sariban





.1. Kemuliaan Penulis
Ada beberapa poin penting yang kita dapat saat kita menulis diantaranya adalah :
a.      Mensyukuri memiliki pikiran
b.      Bahagia dapat berekspresi
c.       Amanah umur
d.      Ibarat pohon sudah berbuah
e.      Matinya-masih hidupnya
f.        Jariyah tak berkesudahan
g.      Bahagia dunia-akhirat
Dari ke-tujuh poin diatas, aku menggaris bawahi ada 4 poin yang kuanggap teramat penting, yaitu bahagia dapat berekpresi, matinya-masih hidupnya, jariyah tak berkesudahan serta bahagia dunia-akhirat.
Bahagia dapat berekspresi, hal ini merupakan poin penting pertama yang bisa kupetik. Mengapa begitu? Menurutku, saat di dunia nyata, kita tak bisa mengekspresikan diri tentang rasa yang kita rasakan dalam hati, mungkin karena terhalang oleh rasa sungkan, malu atau aturan-aturan terkait yang membelenggu kita untuk berekspresi, nah, pada saat kita menulis, semua rasa yang membelenggu kita akan terlepas begitu saja. Imajinasi liar kita akan mengembara ke segala arah, tanpa bisa kita bendung lewat tulisan kita.
Ada pepatah yang juga aku pegang selama ini aku pegang, writing is healing, bahwa dengan menulis, semua rasa yang tersumbat di dada akan tertumpah dan melalui menulis, merupakan suatu obat yang mujarab untuk menyembuhkan. Hal ini pernah dialami oleh Presiden ke-3 kita, Bapak B.J Habibie, sepeninggal istri beliau, Ibu Hasri Ainun Besari. Sepertinya ini juga berlaku untuk, Presiden ke-6 kita, bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY), setelah Ibu Ani wafat, meninggalkan beliau dan kedua putra tercintanya.
Poin penting yang kedua adalah matinya-masih hidup. Bingung kan? Tenang, tarik nafas dulu, hembuskan perlahan, sesap kopi yang terhidang atau kunyahlah cemilan yang tersedia di depanmu. Yang dimaksud matinya-masih hidup disini adalah saat ruh kita tercerabut dari raga atau dengan kata lain yang lebih kasar, kita mati, tulisan kita masih ada untuk dibaca oleh orang lain. Sehingga, yang membaca karya kita, tak sadar bahwa kita sudah tak lagi ada di dunia. Hal ini terkait juga dengan jariyah tak berkesudahan. Mengapa jariyah tak berkesudahan? Jariyah tak berkesudhan adalah saat tulisan kita diibaca dan bermanfaat untuk orang lain, otomtis pahala akan terus mengalir pada kita meski kita sudah terbang ke nirwana.
Poin penting terakhir yang aku garis bawahi terkait kemuliaan penulis adalah bahagia dunia-akhirat. Bahagia di dunia, yaa seperti apa yang aku sampaikan diatas di akhirat juga dikarenakan jariyah yang terus mengalir pada kita.

2. Patokan Kepenulisan
Ada beberapa patokan kepenulisan yang disampaikan oleh Cak Sariban saat itu, yaitu:
a.      Menghibur diri sendiri
b.      Menghibur orang lain
c.       Memanfaatkan diri sendiri
d.      Bermanfaat bagi orang lain
e.      Menyenangkan-menghadirkan hikmah
f.        Yang belum baik menjadi baik
g.      Yang sudah baik bertambah baik
h.      Gerakan mengusung keberkahan
i.        Hanya pertolongan Allah

Nah, khusus untuk sesi patokan kepenulisan, hanya satu poin penting yang aku bold atau cetak tebal dan aku garis bawahi yaitu pada poin terakhir, hanya pertolongan Allah. Seorang penulis, sehebat apapun dia, dia pasti akan membutuhkan Tuhan-nya untuk selalu membersamainya pada saat ia menulis hingga lahirlah sebuah karya yang berupa hasil tulisan. Karena aku seorang muslim, maka aku menyebut Allah. Saat kita melibatkan Sang Ilahi Robbi, dalam tulisan kita, maka saat kebuntuan melanda atau dalam istilah kepenulisan disebut writer blocks,insyaallah pertolongan akan datang dari arah yang tak pernah kita sangka dan kita duga sebelumnya. Jadi, selalu libatkan Allah dalam setiap tulisanmu. Mintalah untuk selalu temani dan sertai dalam setiap tuangan aksara dalam karyamu.

3.  Apa yang Kita Tulis
Ada beberapa hal yang dapat kita tulis dan kita jadikan karya kita, diantaranya adalah :
a.      Semua fenomena                                      h. Pengalaman
b.      Suasana (waktu – tempat)                        i. Impian
c.       Orang                                                        j. Apa saja
d.      Binatang                                                    k. Bebaskan fiksi-non fiksi
e.      Tumbuhan
f.        Kegembiraan
g.      Kesedihan
Dari beberapa poin yang tersebut di atas, aku dapat menyimpulkan bahwa ada banyak hal yang dapat kita tulis. Mengenai apa yang akan kita tulis, terlebih dahulu harus bisa memilih apakah tulisan itu dalam bentuk fiksi atau non fiksi. Karena jika kita belum memilih antara fiksi dan non fiksi biasanya kita akan merasa bingung untuk memulai. 

4 Pokoknya yang Di-
Sekilas jika kita baca pada poin ini, kita agak mengernyitkan dahi sedikit. Mengapa demikian? Karena dari judulnya ada kata “di-“. Masih belum paham kan? Nah ini dia yang dimaksud:
a.      Dilihat                               d. Dialami
b.      Didengar                           e. Dirasakan
c.       Dibaca
Dari 5 poin diatas, seorang penulis harus bisa mengolah rasa dan diimajinasikan kemudian dituangkan dalam goresan aksara yang pad akhirnya akan melahirkan sebuah karya.

5.    Untuk Siapa Tulisan Saya
Sebelum melahirkan sebuah karya, seorang penulis harusnya bisa membidik segmen pasar mana saja karya tersebut dihasilkan. Ada 5 pembaca yang dapat kita jadikan segmen pasar untuk karya, yaitu:
a.      Pembaca anak
b.      Pembaca remaja
c.       Pembaca dewasa
d.      Pembaca akademisi
e.      Pembaca umum

6    Ragam Produk Buku
Menurut Cak Sariban ada 9 produk yang dapat kita jadikan buku. Ke-9 karya itu adalah:
a.      Novel                                             f. Kumpulan puisi
b.      Kumpulan cerpen                          g. Catatan harian
c.       Cerita pengalaman pribadi          h. Kumpulan artikel
d.      Cerita tokoh (biografi)                  i. Cerita tempat
e.      Laporan penelitian

  Produk Buku Kita
Yang dimaksud produk kita disini adalah guratan pena yang telah disatukan menjadi sebuah buku. Ada 6 poin penting yang harus ada dalam buku kita, yaitu :
a.      Judul halaman sampul depan
b.      Kata pengantar
c.       Daftar isi
d.      Isi buku
e.      Tentang penulis
f.        Endors halaman sampul belakang
Oh iya, mengenai endors ini, ada  versi, ada yang meletakannya di bagian depan setelah halaman sampul, ada jua yang meletakkannya di halaman belakang. Itu sih terserah kita, mau meletakkan di halaman mana.

8.      Judul Halaman Depan
Mengenai judul yang ada pada halaman depan, sebaiknya memuat 3 unsur yaitu:
a.      Nama penulis
b.      Judul utama
c.       Judul pelengkap
Judul pelengkap bisa dituliskan bisa tidak. Karena itu untuk lebih memperjelas dan mempertegas judul utama yang telah tertulis.

9.      Kata Pengantar
Kata pengantar yang ada dalam sebuah karya berupa buku, tidak sama dengan yang tertulis di sebuah skripsi. Kata pengantar ini bertujuan untuk mendekatkan pembaca pada bagian-bagian isi buku, mendeskripsikan garis besar isi buku dan mendorong pembaca untuk membaca buku secara menyeluruh

 10. Daftar Isi
Pada bagian daftar isi, penulis menggambarkan isi buku berdasarkan urutan cerita. Serta dapat melakukan pengelompokkan berdasarkan topic yang telah ada.

   11 .  Isi Buku
Isi buku yang telah kita tulis itu hendaknya harus sesuai dengan daftar isi, diupayakan isi buku merupakan alur awal-inti-akhir dan yang terakhir adalah sistematika penulisan masing-masing bagian isi buku harus konsisten.

12.  Tentang Penulis
Bisa disebut juga biodata atau profil penulis biasanya ditulis di bagian akhir sebuah karya. Profil penulis itu sendiri terdiri dari riwayat penulis, karya-karya yang telah dihasilkan, aktivitas kepenulisan yang pernah dan sedang diikuti serta penghargaan yang pernah diperoleh.

 13.    Halaman Sampul Belakang
Pada halaman sampul belakang, biasanya memuat keunikan buku tersebut, rangkuman buku, pendapat para pakar, testimoni penulis lain, bisa juga ajakan kepada para pmbaca buku untuk membaca buku tersebut atau untuk memahami buku tersebut secara cepat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Katalisator Pendidikan di VCT Batch 5 Jatim

VCT

TEMU PENDIDIK REGIONAL ( TPR ) JATIM 2019