Master Dahsyot Kebonsari 2, M. Karmudji, M.Pd
Kelas Kolaboratif With Google For education
Perempuan paruh baya itu duduk lemas, lunglai pada sebuah bangku taman sekolah yang sudah mulai memudar warnanya karena sering terkena hujan dan panas matahari. Matanya menerawang nun jauh di sana, ke arah kelas yang selama ini menjadi peraduannya. Selama ini ia melampiaskan seluruh hasrat mengajarnya yang selalu menggelora di kelas tersebut. Meskipun di sekitar tempat duduknya berlarian siswa siswi yang sedang menikmati istirahat, pandangan matanya kosong sayu seakan menyimpan sendu yang mendalam. Terlihat mulutnya mengunci rapat dengan mimik wajah yang sedikit meratap. Sebut saja Bu Niki, bu guru yang sedang mengalami kegalauan.
Ya, semenjak mendapatkan pengumuman dari Kementerian Pendidikan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban, bahwa mulai minggu depan pembelajaan tidak bisa lagi dilaksanakan dengan menggunakan tatap muka seperti biasanya dan harus dialihkan dengan pembelajaran daring berbasis online, maka seolah langit runtuh persis di hadapannya. Bagaimana tidak galau, ia yang biasanya bisa dengan leluasa belajar bersama siswa siswinya di kelas harus tidak bisa lagi bertemu lagi dengan siswanya secara langsung. Hal ini tentu menjadi beban bagi Bu Niki, apalagi mendengar pembelajaran harus dilaksanakan secara daring dengan media berbasis online, beban tersebut semakin terasa menggelayut dalam pundak serta benaknya.
Selama ini Bu Niki memang masyhur dalam pembelajaran secara langsung karena pengalamannya yang sudah 23 tahun menjadi guru kelas yang selalu hadir tepat waktu dan menjadi idola anak-anak karena wataknya yang kalem dan pembawaannya yang sangat keibuan. Namun, selama menjadi guru tersebut Bu Niki tentu mempunyai sesuatu yang menjadikan dirinya merasa kurang percaya diri jika berhadapan dengan komputer. Selama ini dunia teknologi memang menjadi momok tersendiri bagi Bu Niki, selain karena usia sudah senior ditambah lagi ia memang sudah terbiasa mengajar dengan media yang tidak berbau komputer.
Adanya pengumuman tersebut benar-benar membuatnya seperti harimau kehilangan belangnya, karena harus berhadapan dengan dunia teknologi yang selama ini sangat jauh dari kesehariannya. Lima tahun menjelang masa purna tugasnya menjadi serasa akan berakhir minggu depan.
Di saat sedang duduk gelisah tersebut, datanglah Pak Aji yang sedari tadi mengamati kegelisahan Bu Niki. Singkat cerita, bangku taman yang kusam tersebut menjadi saksi bisu percakapan mereka. Pembicaraan yang keluar dari hati ke hati. Pak Aji yang sangat mengerti jika Bu Niki saat ini sedang gelisah gundah gulana.
“Bu, sedari tadi saya amati kok Bu Niki melamun saja?” Pak Aji memulai pembicaraan.
“Ah, enggak, Pak. Saya hanya bingung harus bagaimana nanti? Tadi Pak Aji kan juga mendengar pengumuman kan? Tentang pembelajaran mulai minggu depan harus dilaksanakan secara daring karena pandemi covid-19 sudah mulai masuk di Kabupaten Tuban?” Suara berat Bu Niki mulai bercerita.
“Pak Aji kan tahu sendiri, saya selama ini tidak menguasai komputer apalagi internet. Pakai HP Android saja kan karena keadaan memaksa saya. Kalau pembelajaran harus dilaksanakan dengan cara daring, tentu saya bingung bagaimana cara melaksanakannya?" Lanjut Bu Niki dengan suara yang hampir bergetar menahan tangis.
"Saya mendengar dari berita di televisi bahwa pembelajaran Daring itu semua serba online, tentu saya tidak bisa mengikutinya. Beda dengan Pak Aji yang masih muda dan bisa ilmu komputer dan teknologi komunikasi. Lha saya yang seperti ini harus bagaimana, Pak?” ungkap Bu Niki karena rasa gundah yang menyelimuti hatinya. Momen itu menjadi ajang Bu Niki menumpahkan segala resah di dada dan berharap ada sedikit beban yang berkurang.
“Begini, Bu. Keadaan ini memang datang tiba-tiba, pandemi yang terjadi ini tentu bukan atas undangan kita, maka mari bersama-sama kita mencari jalan keluar agar hak siswa kita mendapatkan pendidikan terus berjalan” hibur Pak Aji.
“InsyaAllah besok Bapak Kepala sekolah akan mengadakan rapat dewan guru dan nanti mari kita cari solusi bersama. Apa dan bagaimana program sekolah menghadapi situasi seperti ini” sambung Pak Aji.
“Alhamdulillah, Pak. Saya senang mendengarnya. Semoga besok, saya dan teman-teman bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik untuk tetap melaksanakan pembelajaran, meskipun harus melaksanakan pembelajaran secara daring” ucap Bu Niki dengan wajah yang mulai berbinar.
Akhirnya rapat dewan guru dilaksanakan, dan sekolah kami mulai merancang model pembelajaran daring yang akan dilaksanakan. Kepala sekolah memberikan kebebasan kepada semua guru untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kemampuan guru masing-masing. Meskipun Bu Niki gaptek terhadap teknologi, namun ia termasuk guru yang sangat bersemangat ketika Pak Aji bersedia membagi ilmu terkait merancang Pembelajaran Daring Era Pandemi ini. Sesuai hasil rapat bahwa Pak Aji siap berbagi kepada para guru di sekolah sebagai tutor sebaya untuk membekali guru-guru seperti Bu Niki bagaimana merancang pembelajaran daring yang mudah dan menyenangkan.
Selama lima hari dilaksanakan pelatihan mini dengan tema mendesain pembelajaran daring masa pandemi dengan materi yang sangat luar biasa hasil dari pelatihan yang selama ini diikuti oleh Pak Aji baik dari Dinas Pendidikan maupun dari kelas berbayar. Guru-guru diajak untuk membuat kelas maya dengan Google Classroom, kuis online serta penilaian online. Selain mengelola kelas maya, Pak Aji juga mengajak guru-guru praktik bagaimana cara menggunakan Google Document dan Google Slide untuk mengelola siswa saling berkolaborasi dengan teman yang lainnya. Bahkan untuk literasi siswa guru-guru juga diajarkan bagaimana membuat website pembelajaran yang mudah tanpa harus menguasai ilmu Coding dan Hosting yaitu menggunakan Google Sites.
Meskipun harus tertatih-tatih, berbekal tekad yang kuat dan semangat yang menggebu, Bu niki dan guru-guru lainnya sedikit demi sedikit bisa mengikuti kegiatan tersebut, dan mulai mendapatkan gambaran bagaimana nanti melaksanakan pembelajaran daring. Pak Aji juga sudah berjanji akan mendampingi Bu Niki sampai bisa menggunakan pembelajaran tersebut meskipun tidak mahir, yang penting selalu dicoba dan dipraktekkan.
Dan alhamdulillah setelah masa pandemi berjalan selama 9 bulan ini senyum ceria Bu Niki selalu mengembang, karena jerih payah belajarnya menuai hasil, saat ini kelas yang diampunya berjalan dengan baik dan anak-anak antusias mengikutinya.

Komentar
Posting Komentar